Syarikat Islam Tekankan Perlunya Lompatan Teknologi untuk Mencapai Kesetaraan dalam Akses Ekonomi dan Pendidikan

Manado, suarasi.com – Saat sekarang, kondisi ekonomi ummat di Indonesia masih belum baik, terbukti dengan penguasaan akses ekonomi dan pendidikan oleh segelintir konglomerat. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah/Dewan Pimpinan Pusat Syarikat Islam, Dr. Hamdan Zoelva, saat menjadi pembicara dalam diskusi panel dengan tema ‘Teknologi dan Inovasi untuk Masa Depan Ekonomi Ummat’, di hotel Sintesa Peninsula, Manado, Sulawesi Utara, Jum’at (4/10).

“Kita dapat menegakkan kesetaraan dalam dunia pendidikan, kesetaraan dalam jaringan perdagangan, kesetaraan dalam jaringan hukum, kesetaraan dalam jaringan identitas pribadi (profiling), kesetaraan di setiap jaringan,” ujar Hamdan.

Sepuluh tahun yang lalu, lanjut Hamdan, kita tidak mengenal teknologi Android, tapi sekarang kita sangat bergantung pada smartphone. “Demikian pula dalam bidang ekonomi, dahulu sistem ekonomi adalah ekonomi kepemilikan. Perusahaan taxi memiliki armada masing masing. Perhotelan, memiliki kamar kamar masing masing. Tapi sekarang dengan konsep Sharing Ekonomi, kita kemudian mengenal gojek, grab yang dalam waktu singkat memiliki armada melebihi Blue Bird. Atau Air Bnb yang kini jumlah kamarnya melebihi jaringan Hilton,” jelas Hamdan dalam materinya.

Namun, tambah Hamdan, sistim sharing ekonomi seperti ini masih diantarai oleh suatu entitas yang masih dikuasai oleh pemilik modal, karena memang tingginya biaya untuk menjalankan server. “Melalui platform Tjokro, kedepan kita akan membuat sharing ekonomi 2.0 dimana perdagangan bisa dilakukan secara peer to peer tanpa perlu dijembatani oleh suatu entitas,” tutur Hamdan dalam seminar yang disela-sela pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Syarikat Islam Sulawesi Utara ini.

“Hal ini tidak sekedar dalam program aksi bahwa setelah Majelis Takhim ke 40, Syarikat Islam kembali bergerak di bidang ekonomi, tapi kita mengambil inti dari perjuangan SI yang dirumuskan oleh Tjokroaminoto yaitu Persamaan, Persaudaraan dan Kemerdekaan. Sudut pandang kesetaraan akan membuat rasa persamaan yang memantik persaudaraan,” tambahnya.

Ia mengatakan bahwa pola pikir kesetaraan adalah peletak dasar dalam membentuk jiwa merdeka dalam diri sendiri. Menjadi merdeka untuk mengutarakan pikiran dan isi hati.

“Untuk bisa mewujudkan suatu program ekonomi ummat yang kuat, maka paling tidak kita harus melakukan dua hal, yaitu persatuan dan lompatan teknologi,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.